Kamis, 09 Juni 2011

Berani berwirausaha ?????


Pertanyaan tersebut saya tujukan bagi teman-teman muda yang sedang mencari pekerjaan atau yang akan menyelesaikan jenjang terakhir pendidikannya. Beranikah Anda membuat lapangan pekerjaan untuk diri Anda sendiri.
Secara berkelakar mungkin akan Anda jawab: berani, jika usaha sendiri itu mudah dilakukan dan murah ongkosnya. Ya, tentu saja. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Membangun usaha sendiri itu tidak mudah. Butuh modal yang tidak sedikit. Harus membangun relasi dengan suplayer dan konsumen. Dan tentu saja resiko kegagalan harus ditanggung sendiri.
Sebuah artikel yang penulis baca menyatakan bahwa negara bisa maju jika banyak orang yang tertarik untuk menjadi wirausahawan. Jika 10% dari mereka yang menyelesaikan pendidikannya mau menjadi wirausahawan, dan ini berlangsung dari tahun demi tahun, maka negara itu akan berkembang dengan pesat, dan menjadi kekuatan ekonomi baru. China, negara yang tengah bersaing dengan Amerika Serikat untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor 1, prosentase wairausahawannya tidak tinggi sekali, tak sampai 10 persen. Namun jumlah penduduk negara tersebut sangat besar, diatas satu milyar.
Bagaimana dengan Indonesia? Hehehe …. Ternyata di negeri ini profesi wirausahawan adalah sesuatu yang langka. Data yang pernah saya baca menyebut di negeri ini jumlah wirausahawan tak sampai setengah persen. Dan yang lebih mencengangkan lagi, ternyata jumlah pencari kerja sebanding dengan tingginya pendidikan. Artinya  semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin takut untuk menjadi wirausahawan.
Mengapa para sarjana enggan membuat usaha sendiri? Ada banyak alasan :
Kemungkinan yang pertama adalah citra diri. Di negara kita status sosial merupakan sesuatu yang sangat dibanggakan. Indikasinya mudah, lihat saja para pegawai baru. Banyak pegawai baru yang penghasilannya harus dipotong agar bisa memiliki kendaraan baru, atau blackbarry baru. Untuk memulai usaha sendiri ada dua pilihan: bekerja sendiri dengan konsekuensi lelah namun hemat modal, atau mengupah orang lain. Untuk mengupah orang lain butuh dana yang besar, maka orang tidak mampu. Untuk bekerja sendiri orang enggan karena tidak keren, bajunya kotor, lelah, mandi keringat dan seterusnya. Maka para sarjana yang baru lulus lebih suka bekerja di toko sambil menunggu mendapat posisi yang lebih baik dari pada memulai usahanya sendiri.
Kemungkinan yang ke dua: pegawai lebih nampak kaya. Coba saja Anda amati di sekitar Anda. Antara pegawai dan wiraswastawan yang memiliki penghasilan hampir sama, mana yang lebih baik gaya hidupnya. Tentu saja pegawai. Sama-sama memiliki penghasilan 10 juta. Dalam tiga-empat bulan seorang pegawai bisa memiliki motor baru. Sementara seorang wiraswastawan akan berpikir lain. Sebagian dari dana sejumlah itu harus ada yang disisihkan untuk mewujudkan rencana pengembangan usaha, atau minimal ditabung untuk cadangan keuangan. Maka jika ada pegawai dan wiraswastawan memiliki kemewahan hidup yang sama, bisa dipastikan bahwa yang wiraswastawan memiliki lebih banyak uang. Karena biasanya dalam kondisi normal seorang wiraswastawan memiliki cadangan modal sejumlah 100%.
Kemungkinan ketiga: menjadi pegawai kelihatan lebih intelek. Coba lihat penampilan seorang asisten manajer atau kepala sekolah. Pakaian kerjanya nampak rapi. Kalau sore duduk di teras rumah, mengenakan kacamata sambil membaca buku. Ia juga sering diminta memimpin rapat di masyarakat setempat. Bandingkan dengan wiraswastawan. Pagi-pagi sudah bangun, dan mulai beraktifitas. Ketika matahari tenggelam kadang ia baru bisa mandi. Kadang sebelum tidur harus mengerjakan ini itu untuk persiapan bekerja besok pagi. Wiraswastawan juga kadang terlalu sibuk untuk ikut rapat-rapat di masyarakat.
Kemungkinan keempat: menjadi pegawai kelihatan lebih menantang. Coba bandingkan perhitungan yang dibuat antara manajer dengan pengusaha. Manajer kelihatan menggunakan banyak teori ekonomi dan seterusnya. Sedang pengusaha tidak banyak berteori. Karena bagi pengusaha yang penting perhitungan yang dibuat menghasilkan keuntungan. Selebihnya adalah soal perjudian.
Kemungkinan kelima: menjadi pegawai lebih dihargai. Jarang ada seorang manajer ketika melayat dan tak kebagian tempat duduk bisa duduk di tanah beralaskan kertas. Pasti keluarga tuan rumah akan mencarikan tempat duduk untuk manajer tersebut. Beda dengan wirausahawan. Dengan mengenakan baju lengan pendek yang tak dimasukkan, celana panjang yang tak mahal harganya dan mengenakan sandal jepit, ia bisa duduk di tempat yang paling belakang.
Lima hal tersebut adalah sesuatu yang hanya kelihatan dari luarnya saja. Namun jika kita lihat lebih teliti, ternyata berbeda.
Pertama, wirausahawan bisa memiliki uang lebih banyak dari yang kelihatan. Kadang seorang wirausahawan memutar uang untuk usahanya tiga kali-empat kali kekayaan yang ada di rumahnya. Jadi jika seorang wirausahawan membeli mobil senilai seratusan juta, nilai usahanya plus cadangan modal bisa mencapai satu milyar.
Kedua, wirausahawan memperoleh penghasilan lebih banyak dari gaji tertinggi pegawainya. Bisa jadi seorang manajer yang membawahi 100 pegawai penghasilannya kalah banyak dibanding pemilik rumah makan yang memiliki 40 pegawai.
Ketiga, kadang merintis usaha baru lebih menghabiskan tenaga dan pikiran dari pada menjadi manajer. Seorang yang baru diangkat menjadi manajer tidak bekerja berdasar “buku kosong.” Ia memiliki staf yang membantunya menjalankan usaha berdasar pola kebiasaan yang lalu. Berbeda dengan wirausahawan yang sedang membangun usaha. Mungkin ia bisa bertanya pada pengusaha lain. Namun bagi pengusaha lain, membocorkan kesuksesan usahanya sama saja dengan berbagi roti keuntungan. Selain itu merintis usaha baru juga memerlukan penghematan maksimal karena penghasilan usahanya masih minim. Oleh karena itu seorang wiraswastawan yang sedang merintis usaha sebisa mungkin mengerjakan sendiri apa yang bisa ia kerjakan. Seorang manajer mungkin sedikit lebih pintar dari wiraswastawan. Namun jika dihitung penggunaan tenaga dan pikirannya, seorang manajer akan kalah.
Keempat, seorang wirausahawan bisa bekerja menurut ritme kerja yang ia sukai. Jika ia sedang butuh dana, ia bisa bekerja belasan jam per hari. Namun jika sedang santai, ia mungkin lebih suka menambah liburan akhir pekannya.
Kelima, saat ini wirausahawan adalah seorang “pahlawan.” Di tengah tingginya angka pengangguran, dibutuhkan orang yang mampu mampu menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Apalagi jika ia sampai membutuhkan tenaga orang lain untuk dipekerjakannya. Itu namanya bukan lagi pahlawan, namun orang yang luar biasa.
Jadi, jika Anda ingin memiliki uang banyak, bukan sekedar status sosial, ada baiknya Anda mencoba untuk menjadi wirausahawan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Enter your email address:

Tampilan terbaik gunakan Netscape 7.2 atau Mozilla 5.0
| Template by Amanda Yessica |